Ketika aku mulai bisa mengenal orang selain keluargaku, di situ lah aku merasa mereka cukup berharga bagi hidupku, ya.. sebutan mereka adalah teman. Pada saat aku mulai bersekolah di TK, begitu banyak orang yang disebut teman namun hanya beberapa di antara mereka yang bertahan hingga sekarang dengan gelar teman. Masa-masa putih merah pun hampir semuanya mereka aku anggap teman, tapi sayang..tak banyak pula yang bertahan dengan gelar teman itu. Namun setidaknya,ada beberapa yang memang dari hingga kini menguatkanku untuk terus berdiri menatap mimpi yang kuyakini menjadi nyata suatu hari nanti. Masa putih biruku pun tak jauh berbeda, teman silih berganti namun ya begitulah hanya beberapa yang bertahan hingga sekarang. Mereka punya mimpi masing-masing memang,tapi mereka tak mengabaikanku dengan sepenuhnya. Aku mengerti, itu terjadi karena keadaan yang kurang memungkinkan. Nah, sekarang masa putih abu-abu ku. Indah memang, begitu solid dan menyenangkan tapi itu sebelum semuanya punya mimpi dan cita-cita masing-masing. Beberapa dari mereka bukan hanya sekedar teman bagiku, tapi mereka seperti bagian dari keluargaku. Tapi keadaan tak bisa dipaksakan, ada kalanya batu es mencair dan airnya mengalir ke mana-mana. begitupun pertemanan yang kurasakan di masa putih abu-abu ini. Dulu begitu keras, kuat, solid, begitu dingin membawa kesejukan. Tapi realitanya kini batu es tersebut sudah mencair.. Ada gejolak api panas di antaranya. Batu es ini mencair bukan karena ada api yang membakar di tengahnya, tapi api tersebut nayala di sekeliling batu es tersebut. Intinya,bukan faktor internal tapi faktor eksternal :')
Komentar
Posting Komentar